Pengurus HATTI Sumut Dilantik untuk Menyelenggarakan Seminar Nasional Mitigasi Bencana Geoteknik

Pada tanggal yang bersejarah, pengurus Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI) Sumatera Utara secara resmi dilantik dan langsung menghadapi tantangan besar di depan mereka. Fokus utama mereka adalah menyusun sejumlah program yang akan memprioritaskan mitigasi bencana, khususnya melalui rencana penyelenggaraan seminar nasional mitigasi bencana geoteknik pada bulan September 2026. Inisiatif ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya risiko bencana seperti banjir dan tanah longsor yang mengancam wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Pentingnya Seminar Nasional Mitigasi Bencana Geoteknik
Ketua HATTI Sumut, Ir Berlin A Tampubolon, menekankan pentingnya pendekatan geoteknik dalam setiap proyek pembangunan. Dalam pernyataannya, ia menyatakan bahwa tidak ada alasan untuk merancang bangunan tanpa mempertimbangkan kondisi tanah yang ada. “Geoteknik harus menjadi pijakan utama dalam perencanaan, terutama di daerah yang rawan terhadap bencana seperti beberapa lokasi di Sumatera Utara,” tegas Berlin.
Seminar nasional yang direncanakan akan mengusung tema “Mitigasi dan Rehabilitasi Bencana Alam: Tantangan dan Strategi Geoteknik untuk Pembangunan Berkelanjutan di Sumatera Utara.” Kegiatan ini bertujuan untuk menjadi wadah diskusi bagi berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, praktisi, hingga pelaku industri konstruksi, untuk mencari solusi konkret dalam menghadapi tantangan yang ada.
Kolaborasi Lintas Sektor
Berlin menjelaskan bahwa seminar nasional ini bukan sekadar ajang akademik, tetapi juga forum kolaborasi lintas sektor. Ketua Panitia Seminar Nasional HATTI 2026, Dr Ir Ernesto M. Silitonga, menambahkan bahwa seminar ini ditargetkan untuk menghasilkan rekomendasi yang aplikatif dan bisa langsung diterapkan. “Kami ingin menghasilkan solusi yang nyata, bukan hanya diskusi tanpa hasil. Harus ada output yang dapat digunakan dalam perencanaan dan penanganan bencana,” ungkapnya.
Karakteristik Geografis yang Menjadi Tantangan
Secara geografis, wilayah Sumatera Utara dan Aceh memiliki karakter tanah yang kompleks, seperti lempung, batuan lapuk, serta kondisi perbukitan yang curam. Struktur tanah yang beragam ini membuat potensi terjadinya longsor menjadi lebih tinggi, terutama saat intensitas curah hujan meningkat. Oleh karena itu, pendekatan geoteknik sangat penting untuk meminimalkan risiko yang ada.
Peran Ahli Geoteknik dalam Penanggulangan Bencana
Dr Ir Immanuel Panggabean, Wakil Ketua Seminar Nasional HATTI Sumut 2026, menekankan bahwa kehadiran ahli geoteknik sangat penting, tidak hanya pada tahap perencanaan tetapi juga dalam penanganan pascabencana. “Analisis stabilitas lereng, investigasi tanah, dan desain mitigasi harus menjadi standar dalam setiap proyek. Ini bukan lagi hal yang bisa dianggap remeh,” ujarnya.
Penerapan Teknologi dalam Mitigasi Bencana
Di era yang semakin canggih, pemanfaatan teknologi dalam mitigasi bencana juga menjadi sorotan. Ir Adi Yesaya Sukatendel, yang bertanggung jawab dalam bidang Ilmiah dan Pengembangan Profesionalisme, menekankan pentingnya sistem peringatan dini dan alat monitoring lereng. “Teknologi harus menjadi bagian integral dari solusi bencana. Dengan data yang akurat, kita dapat meminimalkan risiko sejak tahap awal,” jelasnya.
Tantangan dan Kekurangan Ahli Geoteknik
Ir Andi KS Kartawiria, Sekretaris Jenderal HATTI, mengungkapkan bahwa kebutuhan akan ahli geoteknik di Sumatera Utara bukan hanya berdasarkan kuantitas, tetapi juga pada urgensinya dalam menjawab tantangan pembangunan. “Setiap proyek infrastruktur sangat bergantung pada keahlian geoteknik. Tanpa itu, risiko kegagalan konstruksi akan meningkat secara signifikan,” paparnya.
Ia juga menyoroti berbagai tantangan di lapangan, seperti minimnya tenaga ahli dan kurangnya data yang sering kali menghambat penanganan bencana, terutama ketika akses terputus akibat longsor. Melalui seminar nasional ini, HATTI Sumut ingin mendorong perubahan paradigma dari pendekatan reaktif menjadi lebih preventif dalam menangani bencana.
Transformasi Pendekatan Mitigasi Bencana
Transformasi ini diharapkan dapat meminimalkan risiko sejak tahap awal, dengan cara melakukan pemetaan kawasan rawan dan memberikan rekomendasi tata ruang yang lebih adaptif. HATTI Sumut berambisi untuk menciptakan roadmap mitigasi bencana berbasis geoteknik yang konkret dan dapat diimplementasikan sebagai hasil dari forum tersebut.
Mendukung Pembangunan Infrastruktur yang Berkelanjutan
Langkah ini dianggap sangat penting untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang tangguh, aman, dan berkelanjutan, tidak hanya di Sumatera Utara, tetapi juga di kawasan Sumatera secara keseluruhan. Seminar nasional mitigasi bencana geoteknik ini diharapkan dapat menjadi batu loncatan untuk membangun kesadaran dan kerjasama yang lebih baik di antara semua pihak yang terlibat dalam penanganan bencana.
Berdasarkan rencana ini, HATTI Sumut bertekad untuk menjadikan seminar nasional sebagai momentum dalam memupuk kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, dan pihak swasta demi menciptakan solusi yang berkelanjutan dalam mitigasi bencana. Dengan demikian, kita dapat berharap agar risiko bencana dapat diminimalkan dan dampaknya dapat dikelola dengan lebih efektif.