Rico Waas Memilih Berobat ke Luar Negeri, Mengapa Tak Percaya Layanan Kesehatan Lokal?

Keputusan Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, untuk berobat ke luar negeri menjadi sorotan publik yang cukup tajam. Langkah ini dianggap ironis, mengingat posisinya sebagai kepala daerah yang seharusnya menjadi teladan dan representasi dari kepercayaan terhadap layanan kesehatan lokal. Di tengah upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, tindakan Rico menimbulkan pertanyaan besar tentang kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan yang ada di daerahnya.
Pengakuan Rico Waas tentang Perjalanannya
Rico akhirnya memberikan penjelasan terkait kepergiannya ke luar negeri, yang sebelumnya memicu polemik setelah ia absen dari acara peluncuran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih pada tanggal 16 Mei 2026.
“Saya memang berada di luar negeri untuk menjalani pengobatan. Rencana ini sudah saya siapkan jauh-jauh hari, namun tidak bisa dilaksanakan pada waktu yang tepat. Kebetulan saat ini ada waktu libur, jadi saya memutuskan untuk berangkat dan sudah melapor kepada Mendagri tentang agenda ini,” ungkap Rico melalui sambungan telepon pada tanggal 17 Mei 2026.
Respons Publik Terhadap Keputusan Berobat ke Luar Negeri
Meskipun Rico menegaskan bahwa perjalanan ini didanai secara pribadi dan tidak menggunakan anggaran daerah, langkahnya tetap menuai kritik. Banyak yang mempertanyakan keputusan Wali Kota yang memilih berobat ke luar negeri, padahal Sumatera Utara memiliki beberapa rumah sakit besar dan fasilitas kesehatan yang memadai.
Pandangan skeptis muncul dari berbagai kalangan, yang menilai bahwa keputusannya menunjukkan kurangnya kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan yang tersedia di daerah. Di tengah upaya pemerintah daerah yang terus memperbaiki kualitas layanan kesehatan, tindakan ini bisa dianggap sebagai sinyal yang kurang baik.
Alasan di Balik Keberangkatan Rico
Rico menjelaskan bahwa keberangkatannya juga berkaitan dengan pengambilan obat-obatan yang selama ini ia konsumsi.
“Saya pergi ke luar negeri khusus untuk berobat dan mengambil obat yang sudah habis saya pakai. Saya mohon maaf atas situasi ini,” tambahnya.
Persepsi Terhadap Pelayanan Publik di Kota Medan
Di tengah berbagai permasalahan pelayanan publik di Kota Medan, seperti infrastruktur yang belum memadai dan keluhan masyarakat mengenai layanan dasar, keberangkatan Rico ke luar negeri dianggap menunjukkan ketidakpekaan terhadap isu-isu yang ada di daerahnya. Hal ini memperburuk citra kepemimpinannya di mata publik.
Apalagi, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution, sebelumnya telah mengingatkan bahwa kepala daerah diharuskan untuk mendapatkan izin sebelum melakukan perjalanan ke luar negeri, termasuk di hari libur.
Komitmen Terhadap Tugas dan Tanggung Jawab
Walaupun demikian, Rico mengklaim bahwa ia tetap memantau jalannya pemerintahan meskipun sedang menjalani pengobatan di luar negeri.
“Selama saya berobat, saya tetap memonitor perkembangan Kota Medan. Saya juga meminta kepada para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk terus berkomunikasi dan berkoordinasi mengenai situasi di Kota Medan,” jelasnya.
Dukungan untuk Program Strategis Nasional
Rico menegaskan bahwa pemerintah kota Medan tetap berkomitmen untuk mendukung program-program strategis yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dan menjaga koordinasi demi kesejahteraan masyarakat.
- Keberangkatan ke luar negeri untuk berobat menciptakan polemik di kalangan masyarakat.
- Rico memanfaatkan waktu libur untuk menjalani pengobatan yang telah direncanakan sebelumnya.
- Keputusan berobat ke luar negeri dianggap mencerminkan kurangnya kepercayaan terhadap fasilitas kesehatan lokal.
- Rico memastikan tetap memantau perkembangan pemerintahan meskipun berada di luar negeri.
- Komitmen Pemko Medan terhadap program strategis nasional tetap terjaga.
Keputusan Rico untuk berobat ke luar negeri memang menimbulkan berbagai reaksi, baik positif maupun negatif. Namun, yang jelas, situasi ini membuka diskusi mengenai kualitas layanan kesehatan di daerah dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap pemimpin mereka.